Awal mula virus Corona ada di
indonesia saat WNA Jepang berkontak fisik dengan WNI di depok pada tanggal 14
Februari 2020. Itupun diketahui karena sang WNI tersebut mengecek kondisinya ke
rumah sakit yang akhirnya positif corona, dan itupun dikuatkan dengan
pihak malaysia menghubungi pemerintah bahwa WNI jepang yang sebelumnya
mengunjungi indonesia ternyata positif corona, diketahui saat pengecekan di
malaysia karena WNA mengunjungi negara tersebut. Hal yang sangat disayangkan
ternyata pengamanan mengahadapi wabah ini sangatlah lemah karena WNA yang
positif lolos begitu saja di tanah air ini. Selanjutnya Depok dikarantinakan
dan di media sosial mulai terkenal dengan istilah "Jiayou Depok".
Dan tentu saja hari berikutnya virus corona menyebar dengan cepat menghantui negri ini, karena pemerintah tidak siap dan tidak ingin siap menghadapi wabah ini. Seperti contoh menkes kita yang mulia bapak Terawan Agus Putranto dengan egonya yang tinggi menangtang Universitas Harvard untuk membuktikan tuduhan bahwa Indonesia sudah terkena wabah pandemi ini, seakan-akan Indonesia kebal mendapat pengecualian. Hari demi hari beberapa daerah mulai Zona Merah. Apalagi Jakarta semakin memerah. Lockdown mulai diterapkan di beberapa daerah. Tantangan selanjutnya negri ini harus menghadapi warganya yang ngeyel terhadap kebijkan lockdown di daerahnya, apalagi saat dilakukannya maklumat penutupan masjid di beberapa daerah, pemuda masjid memanas menantang maklumat tersebut terlihat seperti menantang maut. Yang lebih disayangkan lagi pejabat pemerintah mengambil kesempatan kampanye merangkul pemuda masjid yang sedang memanas seperti Gubsu Edy pejabat yang penuh kontroversial seakan marah melihat masjid di tutup dan menyarankan makmurkan masjid, yang jadi pertanyaan adalah sebelum wabah ini ada Gubsu Edy sering berjama'ah di masjid mana?.
Masyarakat tidak hanya dihantui oleh wabah ini, tapi juga dihantui oleh efek dari wabah ini. seperti halnya wabah ini juga memancing jiwa kriminalitas manusia, seperti yang sudah kita saksikan, Panic Buying, Monkey Bisnis atau bisa kita sebut para penimbun. setelah berselang lama pemerintah telah melakukan blunder pada tanggal 8 april 2020 pemerintah membebaskan para narapidana kasus ringan, disitulah jalanan menjadi hal yang mengerikan dihantui oleh para pembegal. Ketakutan masyarakat mulai menambah, TV akhirnya tidak hanya dihiasi oleh semakin bertambahnya korban corona tapi juga menampilkan korban pembegalan. Media sosial tidak luput dihiasi dengan doktrin-doktrin konspirasi elit global yang digaungkan oleh Jerinx SID.
Ditengah wabah ini pendidikan masih tetap berjalan, WHO menyarankan untuk melaksanakan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh), dan Kemendikbud sudah menerapkan hal tersebut. Bagi mahasiswa ini juga sebagai tantangan, hari-hari mahasiswa tidak hanya akan diisi dengan rebahan saja, tapi juga dihiasi dengan tugas menumpuk yang diberikan oleh dosen-dosen selama lockdown. Hari ini bukan pena senjata mahasiswa, tapi kuota karena itulah bahan bakar untuk melaksanakan PJJ. Sebagian mahasiswa yang ekonominya kalangan bawah akan dihantui oleh kuota, disaat membutuhkan biaya untuk membeli kuota tapi disamping itu ekonomi keluarga mati akibat penetapan lockdown di daerahnya. Dan sialnya sepertinya wabah ini akan berlangsung lama, pihak inggris saja yang mencoba membuat vaksinya target bulan Juli. Mahasiswa harus terus mengakali supaya kuota untuk tetap sedia. Maka bagi sebagian mahasiswa sangat berterimakasih saat pihak universitas memberikan subsidi kuota, sayangnya tidak semua pihak universitas melakukan hal tersebut.
Disini saya tidak ada niatan sama sekali untuk menakuti, tetapi takutlah dengan sewajarnya. Jangan terlalu menghakimi ketakutan, karena ketakutan itu sendiri membuat manusia bisa bertahan sampai sekarang

