Sabtu, 24 Oktober 2020

AHKAMUL AL-MAD WA AL-QASHR

 

MAKALAH

AHKAMUL AL-MAD WA AL-QASHR

 



Dosen Pengampu:

Khalid Ramdani,S.Ag.M.Ag.

 

Disusun oleh:

             Safira Sruie Zufari                 (1910631120082)

             Sidik Maulana Bahtiar           (1910631120088)

             Silvia Khoerunisa                   (1910631120090)

             Sya’bi Arifin Rifa’I               (1910631120096)

 

 

Universitas Singaperbangsa Karawang

Fakultas Agama Islam

Manajemen Pendidikan Islam

2020


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan anugrah dari-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah AHKAMUL MAD WA AL-QASHR Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan besar kita, Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan kepada kita semua jalan yang lurus berupa ajaran agama Islam yang sempurna dan menjadi anugrah terbesar bagi seluruh alam semesta. Kami sangat bersyukur karena dapat menyelesaikan tugas ini dengan tepat waktu.

Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Kami sadar kurangnya wawasan dalam ilmu tersebut dan keterbatasan bahasa, oleh karena itu kami mohon maaf atas kekurangannya, kami juga mengharapkan kritik dan saran terhadap makalah ini agar kedepannya dapat kami perbaiki.

 

 

Selasa, 22 September 2020

 

 

                                                                                                Penyusun



BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Al-Qur’an adalah firman Allah yang berisi tentang cerita, perintah, dan larangan. Jika kita mengamalkan Al’Qur’an dengan membacanya maka dari tiap satu huruf mendapat satu kebaikan, sebagaimana sabda nabi dalam hadits riwayat Tirmidzi “Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah (Al-Qur'an), maka ia akan mendapatkan satu kebaikan dengan huruf itu, dan satu kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidaklah mengatakan Alif Laam Miim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan Mim satu huruf”

Allah menurunkan Al-Qur’an dengan bahasa Arab, walaupun umat muslim berada di seluruh penjuru dunia dengan berbagai bahasa tetapi ketika baca Al-Qur’an tetap menggunakan Bahasa Arab Fusha (murni atau asli) lengkapnya disebut al-lughat al-arabiyyah al-fusha al-turatsiyah. Dalam membaca Al-Qur’an juga perlu memperhatikan panjang pendeknya bacaan, jika salah membaca maka akan salah arti.

1.2 Rumusan masalah

1.      Bagaimana pengertian Al-Mad wa Al-Qashr?

2.      Apa saja huruf-huruf mad?

3.      Bagaimana panjang bacaan mad?

4.      Bagaimana pembagian mad?

5.      Bagaimana bacaan qashr?

1.3 Tujuan Penulisan

1.      Untuk mengetahui pengertian al-mad wa al-qashr.

2.      Untuk mengetahui apa saja huruf-huruf mad.

3.      Untuk mengetahui panjang bacaan mad.

4.      Untuk mengetahui pembagian mad.

5.      Untuk mengetahui bacaan qashr.


BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Al-Mad Wa Al-Qashr

Mad menurut istilah adalah memanjangkan (al-matthu) atau menurut bahasa zayidah adalah menambahkan suatu huruf  ketika membaca huruf mad. Menurut imam Asy-Syatibi, mad adalah memanjangkan bunyi huruf atau huruf layyin ketika ia bertemu Hamzah atau huruf mati. Lebih lanjut Asy-Syatibi mendifinisikan mad dengan menisbatkankan mad dalam suatu kata.

Dan begitu pula menurut Muhammad Mahmud dalam kitab Hidayatul Mustafid bahwa mad dalam arti Bahasa adalah almathu artinya memanjangkan, atau Azziyaadah yang artinya tambah. Dan menurut istilah adalah “Mad adalah memanjangkan suara dengan suatu huruf diantara huruf-huruf mad”

Qashr menurut istilah memendekan bunyi huruf mad yang sebenarnya dibaca panjang atau membuang huruf mad dari suatu kata. Contoh دَرَسْتَ pada Q.S Al-An’am, ayat 105 dibaca panjang dengan دَارَسْتَ.

 

B.     Huruf-Huruf Mad

Mad itu memiliki tiga macam huruf yaitu :

1. Wau mati yang jatuh setelah huruf yang bertanda baca Dhammah. Contoh :

ظَلَمُوْا . ذَكَرُوْا , عَلِمُوْا

2. Ya mati yang jatuh setelah huruf yang bertanda baca kasrah. Contoh :

اَلْحَلِيْمُ , حَافِظِيْنَ , فِيْهَا

3. Alif mati yang jatuh setelah huruf yang bertanda baca fathah. Contoh :

اَلصَّلَاةُ , اَلصِّيَامُ , اَلزَّكَاةُ

Maka dari itu jika menemukan huruf dan tanda baca seperti itu, wajib dibaca panjang. Dengan begitu suara akan terdengar merdu dan elok untuk didengar dan harus rajin-rajin di praktekan untuk menerapkan tiga macam huruf mad ini.

 

C.    Panjang Bacaan Mad

Mad memiliki 3 macam panjang bacaan, yaitu :

1. Panjang yang pendek, dalam Bahasa arab disebut Alqosoru yang artinya pendek. Maksudnya cara membacanya dengan panjang yang pendek sepanjang satu alif atau bisa disebut dua ketukan atau dua harokat.

2. Attawassuttu artinya panjang pertengahan. Dengan cara memanjangkannya sebanyak satu setengah alif atau tiga ketukan dan 3 harakat.

3. Attuulu artinya yaitu cara membacanya dengan panjang dua setengah Alif atau bias disebut lima ketukan atau lima harokat, atau tiga alif setara dengan enam ketukan.

 

D.    Pembagian Mad

Pembacaan Mad dibagi dua bagian, pertama Mad Ashli dan kedua adalah mad Far’i. Mad Ashli menurut Bahasa adalah mad yang masih dijaga keasliannya (original), karena panjangnya tetap satu alif setara dengan segelas susu.

Dan menurut istilah adalah :

 المَدُّ الطَّبِيْعِي اَّلذِي لَاتَقُوْمُ ذَاتُ حَرْفِ اْلمَدِّ اِلَّا بِهِ

Maksudnya dari pengertian tersebut adalah bahwa panjang bacaan mad tidak melebihi panjang semula, yakni satu alif atau setara dengan dua ketukan, karena tidak dimasuki hamzah atau sukun. Sehingga dengan kondisi demikian maka mad Ashli.

Mad Ashli juga biasa disebut mad thobi’i yang artinya sesuai dengan watak aslinya yang selamat dari tambahan hamzah dan sukun, sehingga tidak menambah panjang bacaan semula.

Setiap kali ada alif yang jatuh setelah huruf berharokat fathah, ya yang jatuh setelah huruf berharokat kashroh, wawu jatuh setelah huruf berharakat dhommah, maka wajib dibaca mad thobi’i yang artinya dibaca dengan panjang bacaannya satu alif atau setara dengan dua ketukan atau dua harokat.

Mad Far’i harus dibaca lebih dari satu alif. Ketentuan ini berlaku karena setelah huruf mad didepanya terdapat hamzah atau sukun, cara membacanya melebihi semestinya. Dalam pengertian itu pula disebutkan bahwa panjang bacaannya yang menyebabkan perselisihan: berapakah panjang yang sebenarnya dan harus bertemu apa, hamzah atau sukun.

Oleh karena itu pembagian mad far’I dibagi menjadi 13 bagian:

1.      Mad wajib muttashil

هُوَاَنْ يَكُوْنَ المَدُّ وَاْلهَمْزَةُ فِى كَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ
Antara mad dan hamzah terdiri atas satu kalimat

Mad wajib artinya wajib dibaca Panjang sedangkan muttashil artinya sambung. Karena ada mad dalam satu kalimat hamzah, lama bacanya 2 ½ alif (5 harokat).

Contoh:

جَآءَ, سُوْۤءَ, اَلسَّمَآءُ, جِيْءَ, اُولۤئِــــكَ  

(setelah huruf mad terdapat hamzah)

2.      Mad jaiz munfasil

هُوَ مَاكَانَ حَرْفُ الْمَـدِّ فِى كَلِمَةٍ وَالْهَمْزَةُ فِى كَلِمَةٍ اُخْرَى

“Disebut Mad Jaiz Munfashil karena huruf mad berada disatu kalimat sedang hamzah berada di kalimat lain”.

Mad jaiz artinya boleh dibaca Panjang dan boleh tidak sedangkan munfashil artinya terpisah. Yang dimaksud adalah boleh dibaca Panjang karena ada huruf mad dan hamzah dalam dua kalimat. Adapun Panjang bacanya 1 alif, 2 alif, atau 2 ½ alif.

Contoh:

 بَنِیْۤ اِسْرَاۤئِيْلَ , يَآأَيُّهَاالنَّاسُ, قُوْآأَنْفُسَكُمْ, بَمَآ اُنْزِلَ

)Huruf mad bertemu hamzah dalam dua kalimat(

 

3.      Mad aridh lis-sukun

ِّهُوَ اْلوَقْفُ عَلٰیاٰخِرِ اْلكَلِمَةِ وَكَانَ قَبْلَ اْلحَرْفِ اْلمَوْقُوْفِ عَلَيْهِ اَحَدُ حُرُوْفِ اْلمَدِّ الطَّبِيْعِي

“Berhenti di akhir kalimat dan sebelum huruf yang di hentikan itu terdapat huruf Mad Thabi’i”

Mad aridh lis-sukun artinya bacaan panjang karena terdapat pertemuan antara huruf mad dengan huruf yang dimatikan (sukun) setelah diwakafkan. Membacanya boleh dengan 3 alif, 2 alif, atau satu alif, lebih utamanya dibaca sempurna 3 alif.

Contoh:

الْعِقَا بْ, خَالِدُوْنَ, خَبِيْرٌ, الظَّالِمُوْنَ , الضَّالُّيْنَ , عَدُوٌّمُبِيْنُ , يَشْكُرُوْنَ

(Huruf mad bertemu huruf yang mati karena waqaf)

 

4.      Mad badal

هُوَ اَنْ يَجْتَمَعَ المَدُّ وَاْلهَمْزَةُ فِى كَلِمَةٍ لكِنْ تَتَقَدَّمَ اْلهَمْزَةُ عَلَى اْلَمدِّ

“Huruf mad dan hamzah berkumpul dalam satu kalimat akan tetapi yang hamzah tersebut lebih dulu daripada mad”.

Mad badal yaitu bertemunya hamzah dengan mad yang berasal dari hamzah sukun dalam satu kata. Adapun Panjang bacanya 1 alif. Di namakan mad badal karena bertemu 2 hamzah dalam satu kata, hamzah yang pertama berharokat, dan hamzah yang kedua sukun, kemudian hamzah kedua di ganti huruf mad yang sesuai dengan harokat sebelumnya. Contoh:

Asalnya; أَاْمَنُوْا menjadi اٰمَنَوُا

إِإْتَاءُ menjadi إِيْتَاۤءُ

أَاْخُذُ menjadi اٰخُذُ

(Huruf sebagai pengganti hamzah)

 

 

5.      Mad iwadh

هُوَ الوَقْفُ عَلَى التَّنْوِيْنِ المَنْصُوْبِ فِى اٰخِرِ الكَلِمَةِ

“Mad yang terjadi karena wakaf (berhenti) pada lafad yang ditanwin, dibaca nashab di akhir kalimat”

Mad iwadh yaitu, berhenti pada tanwin yang terletak di akhir kata, panjangnya satu alif.

Contoh:

تَوْبَتَةً, حَيَاةً طَيِّبَةً, كَثِيْرَةً, غَفُوْرًارَحِيْمًا

) Setelah mad ada tanwin diwakafkan)

 

6.      Mad lazim mutsaqqal kilmi

هُوَ اَنْ يَكُوْنَ بَعْدَ حَرْفِ اْلمَدِّ حَرْفٌ مُشَدَّدٌ فِى كَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ

“Mad yang terjadi karena setelah huruf mad terdapat huruf yang ditasydid dalam satu kalimat”

Mad lazim mutsaqqal kilmi yaitu, mad thabi’I bertemu huruf yang bertasydid dalam satu kata. Adapun Panjang bacanya 3 alif.

Contoh:

اَتُحَاۤجُّوْۤنِّىْ, اَلضَّٓالِّيْنَ, اَلطَّٓامَّةُ

) Huruf mad bertemu huruf yang ditasydid(

 

7.      Mad Lazim Mukhaffaf Kilmi

هُوَاَنْ يَكُوْنَ بَعْدَ حَرْفِ اْلمَدِّ حَرْفٌ سَاكِنٌ

“Mad yang terjadi karena setelah huruf mad ada huruf yang mati (disukun)”

Mad lazim mukhaffaf kilmi yaitu, mad thabi’I bertemu denganhuruf sukun. Adapun Panjang bacanya 3 alif.

Contoh:

مَحْيَاۤيْ, آَلْآنَ

) Setelah mad ada huruf yang disukun(

 

8.      Mad Lazim Mutsaqqal Harfi

هُوَ اَنْ يُوْجَدَ حَرْفٌ فِى فَوَاتِحِ السُّوَرِ هِجَاؤُهُ ثَلَاثَةُ أَحْرُفٍ اَوْ سَطُهَا حَرْفُ مَدِّ وَالثَّالِثُ سَاكِنٌ

“Mad yang ditemukan pada huruf permulaan surah dimana huruf itu mempunyai 3 bagian huruf, huruf kedua merupakan huruf mad, sedangkan huruf yang terakhir merupakan huruf yang disukun”.

Mad lazim mutsaqqal harfi yaitu, huruf yang dijumpai pada beberapa awal surat dari A-Qur’an dalam tulisan hanya satu huruf tetapi apabila diuraikan terdiri dari 3 huruf, yang tengah huruf mad dan yang ketiga huruf mati. Jika huruf sesudah mad (huruf ketiga) di idgham kan pada huruf sesudahnya, maka dibaca dengan diberatkan, dan disebut mad lazim mutsaqqal harfi musyabba’. Dari Huruf-huruf yang mengawali sebagian surah dalam Al-Qur’an di atas, maka dapat dipastikan bahwa huruf-huruf Mad Lazim Mutsaqqal Harfi dalam al-Qur’an sebanyak 8 huruf yang terkumpul dalam kalimat : نَقَصَ عَسَلُكُمْ

Contoh:

نٓ, صٓ, حٰــمٓ عٓسٓقٓ

) Mad bertemu huruf sebangsa 3 dalam satu kalimat(

Adapun panjangnya 3 alif, kecuali huruf  pada awal surat Maryam كٓهٰيٰعٓصٓ)) boleh dibaca 2 alif, namun yang lebih masyhur dibaca 3 alif.

 

9.      Mad lazim mukhaffaf harfi

هُوَ مَاكَانَ اْلحَرْفُ فِيْهِ عَلَى حَرْفَيْنِ

“Mad bertemu dengan huruf yang bersifat dua bagian”

Mad lazim mukhaffaf harfi yaitu,huruf-huruf yang berada di awal dari surat Al-Qur’an, dalam tulisan hanya satu huruf tetapi apabila di uraikan terdiri dari dua huruf. Jumlah huruf nya ada 5, yang tergolong dalam lafadz " حَيُّ طَهُرَpanjnag bacaan 1 alif.

Contoh:

طٰهٰ, حٰـمٓ

) Mad bertemu huruf sebangsa 2 dalam satu kalimat(

 

10.  Mad layyin

Mad layyin yaitu, wawu sukun dan ya sukun yang huruf sebelumnya berharokat. Adapun panjangnya, jika dibaca waqof (berhenti) 1 alif, atau 2 alif atau 3 alif dan jika dibaca washal (lanjut) tidak dibaca panjang.

Contoh:

بَيْتٌ. رَيْبٌ, غَيْبٌ

(Huruf layyin jatuh setelah fathah)

 

11.  Mad Shilah

هُوَحَرْفُ مَدٍّ زَائِدٍ مُقَدَّرٌ بَعْدَ اْلهَاءِ الضَّمِيْرِ وَقُدِّرَ بِحَرَكَتَيْنِ حَالَ ضَمِّهِ وَكَسْرِهِ

“Mad shilah adalah huruf mad tambahan yang dikira-kirakan setelah ha’ dhamir dan dikira-kirakan dengan harakat dhammah dan kasrah”.

Mad Shilah artinya bacaan mad yang tersambung. Atau dengan kata lain Mad Shilah adalah huruf mad tambahan yang diperkirakan setelah huruf ha’ dhamir, yang dikira-kirakan dengan harakat dhammah atau kasrah.

Mad Shilah Qashir adalah apabila ada dhamir jatuh setelah huruf hidup dan tidak bersambung dengan kalimat sesudahnya yang diberi al-Ta’rif ( اَلْــ تَعْرِيْف )

Cara membaca Mad Shilah Qoshir adalah 1 alif dan ada yang membacanya 2 alif. Contoh:

إِنَّهٗ كَانَ, اَخْلَدَهٗ كَلَّ, رَسُوْلِهٖ

(Dhamir jatuh setelah huruf hidup dan tidak sambung hamzah)

 

Sedangkan Mad Shilah Thawil adalah mad shilah yang bertemu dengan hamzah Qotho’ (hamzah yang bisa dijadikan permulaan atau ditengah-tengah kalimat), sehingga mad ini hampir sama dengan Mad Jaiz Munfashil.

Mayoritas ulama’ Qurra’ membacanya 2 ½ alif (5 ketukan) namun diantara mereka ada yang membaca qashar dengan alif.

Contoh:

مَاعَنْهُ اٰلِهَةٌ, بِهٖٓ اَزْوَاجًا, كَانَ لَهٗٓ إِخْوَةٌ

(Setelah dhamir ada hamzah qotho’)

 

12.  Mad Farqu

Mad farqu yaitu, mad yang digunakan untuk membedakan antara istifham (kata tanya) dan kalam khabar (berita), sebab jika tidak dibaca Panjang maka dianggap sebagai kalam khabar bukan istifham sehingga hamzah pada kata tersebut adalah istifham. Adapun panjang bacanya adalah 3 alif.

Contoh:

آالذّٓكَرَيْنِ, آاللهُ

(Mad sebagai istifham)

13.  Mad Tamkin

Mad tamkin yaitu, dua huruf ya’ yang satu sukun dan huruf ya’ sebelumnya berharokat kasrah serta bertasydid. Adapun Panjang bacanya 1 alif.

Contoh:

حُيِّيْتُمْ, اَلنَّبِيِّيْنَ

(Sebelum ya’ ada ya’ kasrah dan tasydid)

 

E.     Bacaan Qashr

Qashr adalah bacaan yang semula panjang kemudian dipendekkan. Dalam hal ini, kita bisa merujuk kepada pendapat Imam Hafaz tentang bacaan-bacaan yang di qasharkan dengan uraian berikut ini:


1. Shafrun Mustadir (صَفْرٌمُسْتَدِيْرٌ) yaitu tanda lingkaran seperti bentuk bola yang tertulis pada lafal yang diqasharkan.


2. Shafrun Mustathil (صَفْرٌمُسْتَطِيْلٌ) yaitu tanda lingkaran yang memanjang seperti bentuk telur burung merpati yang ditulis diatas lafal yang diqasharkan.

Bacaan dalam al-Qur’an yang bertanda Shafrun Mustadir harus dibaca pendek, baik diwashalkan (terus) maupun diwakafkan (berhenti).

Contoh:

Tertulis لِشَا۫ئٍ dibaca لِشَئٍ

Tertulis وَمَلَاْئِهٖ dibaca وَمَلَئِهٖ

Tertulis سَلَاسِلَاْ dibaca سَلَاسِلَ

Sedangkan bacaan qashar yang bertanda Shafrun Mustathil mempunyai dua cara membaca yaitu:


1. Tetap dibaca panjang ketika diwakafkan (berhenti).


2. Tetap dibaca pendek ketika di washalkan (terus).


Kendatipun demikian, tidak semua bagian qashar mempunyai tanda Shafrun Mustadir maupun Shafrun Mustathil. Masih banyak lagi bacaan qashar dalam al-Qur’an sebagaimana bacaan yang lazim digunakan Imam Hafaz (Imam Madzab Qurra’ Indonesia).


BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

 

Mad menurut istilah adalah memanjangkan (al-matthu) atau menurut bahasa zayidah adalah menambahkan suatu huruf ketika membaca huruf mad. Dan begitu pula menurut Muhammad Mahmud dalam kitab Hidayatul Mustafid bahwa mad dalam arti Bahasa adalah almathu artinya memanjangkan, atau Azziyaadah yang artinya tambah. Qashr menurut istilah memendekan bunyi huruf mad yang sebenarnya dibaca panjang atau membuang huruf mad dari suatu kata. Wau mati yang jatuh setelah huruf yang bertanda baca Dhammah. Contoh :. Ya mati yang jatuh setelah huruf yang bertanda baca kasrah. Contoh :. Alif mati yang jatuh setelah huruf yang bertanda baca fathah. Contoh :. Maka dari itu jika menemukan huruf dan tanda baca seperti itu, wajib dibaca panjang. 1. Panjang yang pendek, dalam Bahasa arab disebut Alqosoru yang artinya pendek. Mad Ashli menurut Bahasa adalah mad yang masih dijaga keasliannya (original), karena panjangnya tetap satu alif setara dengan segelas susu. Qashr adalah bacaan yang semula panjang kemudian dipendekkan. 1. Shafrun Mustadir (صَفْرٌمُسْتَدِيْرٌ) yaitu tanda lingkaran seperti bentuk bola yang tertulis pada lafal yang diqasharkan. Kendatipun demikian, tidak semua bagian qashar mempunyai tanda Shafrun Mustadir maupun Shafrun Mustathil. Masih banyak lagi bacaan qashar dalam al-Qur’an sebagaimana bacaan yang lazim digunakan Imam Hafaz (Imam Madzab Qurra’ Indonesia).


DAFTAR PUSTAKA

 

·         Meeftha. 2017. Hukum bacaan mad dan qashr.

https://tajwid.web.id/hukum-bacaan-mad-dan-qashar/