MAKALAH
AHKAMUL AL-MAD WA AL-QASHR
Dosen Pengampu:
Khalid Ramdani,S.Ag.M.Ag.
Disusun oleh:
Safira Sruie Zufari (1910631120082)
Sidik Maulana Bahtiar (1910631120088)
Silvia Khoerunisa (1910631120090)
Sya’bi Arifin Rifa’I (1910631120096)
Universitas Singaperbangsa Karawang
Fakultas Agama Islam
Manajemen Pendidikan Islam
2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan
anugrah dari-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah “AHKAMUL MAD WA AL-QASHR” Sholawat dan salam semoga senantiasa
tercurahkan kepada junjungan besar kita, Nabi Muhammad SAW yang telah
menunjukkan kepada kita semua jalan yang lurus berupa ajaran agama Islam yang
sempurna dan menjadi anugrah terbesar bagi seluruh alam semesta. Kami sangat
bersyukur karena dapat menyelesaikan tugas ini dengan tepat waktu.
Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi para pembaca. Kami sadar kurangnya wawasan dalam ilmu
tersebut dan keterbatasan bahasa, oleh karena itu kami mohon maaf atas kekurangannya,
kami juga mengharapkan kritik dan saran terhadap makalah ini agar kedepannya
dapat kami perbaiki.
Selasa, 22 September
2020
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Al-Qur’an adalah firman Allah yang berisi tentang cerita, perintah,
dan larangan. Jika kita mengamalkan Al’Qur’an dengan membacanya maka dari tiap
satu huruf mendapat satu kebaikan, sebagaimana sabda nabi dalam hadits riwayat
Tirmidzi “Barang siapa yang membaca
satu huruf dari kitab Allah (Al-Qur'an), maka ia akan mendapatkan satu kebaikan
dengan huruf itu, dan satu kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku
tidaklah mengatakan Alif Laam Miim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam
satu huruf dan Mim satu huruf”
Allah menurunkan Al-Qur’an dengan bahasa Arab, walaupun umat muslim
berada di seluruh penjuru dunia dengan berbagai bahasa tetapi ketika baca
Al-Qur’an tetap menggunakan Bahasa Arab Fusha (murni atau asli) lengkapnya
disebut al-lughat al-arabiyyah al-fusha al-turatsiyah. Dalam membaca Al-Qur’an
juga perlu memperhatikan panjang pendeknya bacaan, jika salah membaca maka akan
salah arti.
1.2 Rumusan masalah
1.
Bagaimana
pengertian Al-Mad wa Al-Qashr?
2.
Apa
saja huruf-huruf mad?
3.
Bagaimana
panjang bacaan mad?
4.
Bagaimana
pembagian mad?
5.
Bagaimana
bacaan qashr?
1.3 Tujuan Penulisan
1.
Untuk
mengetahui pengertian al-mad wa al-qashr.
2.
Untuk
mengetahui apa saja huruf-huruf mad.
3.
Untuk
mengetahui panjang bacaan mad.
4.
Untuk
mengetahui pembagian mad.
5.
Untuk
mengetahui bacaan qashr.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Al-Mad Wa
Al-Qashr
Mad menurut istilah adalah
memanjangkan (al-matthu) atau menurut bahasa zayidah adalah menambahkan
suatu huruf ketika membaca huruf mad. Menurut imam Asy-Syatibi, mad adalah
memanjangkan bunyi huruf atau huruf layyin ketika ia bertemu Hamzah atau huruf
mati. Lebih lanjut Asy-Syatibi mendifinisikan mad dengan menisbatkankan mad
dalam suatu kata.
Dan begitu pula menurut Muhammad
Mahmud dalam kitab Hidayatul Mustafid bahwa mad dalam arti Bahasa adalah
almathu artinya memanjangkan, atau Azziyaadah yang artinya
tambah. Dan menurut istilah adalah “Mad adalah memanjangkan suara dengan suatu
huruf diantara huruf-huruf mad”
Qashr menurut istilah memendekan
bunyi huruf mad yang sebenarnya dibaca panjang atau membuang huruf mad dari
suatu kata. Contoh دَرَسْتَ pada Q.S
Al-An’am, ayat 105 dibaca panjang dengan دَارَسْتَ.
Mad itu memiliki tiga macam huruf yaitu :
1. Wau mati yang jatuh setelah huruf yang bertanda baca Dhammah.
Contoh :
ظَلَمُوْا . ذَكَرُوْا , عَلِمُوْا
2. Ya mati
yang jatuh setelah huruf yang bertanda baca kasrah. Contoh :
اَلْحَلِيْمُ ,
حَافِظِيْنَ , فِيْهَا
3. Alif mati
yang jatuh setelah huruf yang bertanda baca fathah. Contoh :
اَلصَّلَاةُ ,
اَلصِّيَامُ , اَلزَّكَاةُ
Maka dari itu jika menemukan huruf dan tanda baca seperti itu,
wajib dibaca panjang. Dengan begitu suara akan terdengar merdu dan elok untuk
didengar dan harus rajin-rajin di praktekan untuk menerapkan tiga macam huruf
mad ini.
Mad memiliki 3 macam panjang bacaan, yaitu :
1. Panjang yang
pendek, dalam Bahasa arab disebut Alqosoru yang artinya pendek.
Maksudnya cara membacanya dengan panjang yang pendek sepanjang satu alif atau
bisa disebut dua ketukan atau dua harokat.
2. Attawassuttu
artinya panjang pertengahan. Dengan cara memanjangkannya sebanyak satu
setengah alif atau tiga ketukan dan 3 harakat.
3. Attuulu artinya
yaitu cara membacanya dengan panjang dua setengah Alif atau bias disebut
lima ketukan atau lima harokat, atau tiga alif setara dengan enam
ketukan.
Pembacaan Mad dibagi dua bagian, pertama Mad Ashli dan kedua
adalah mad Far’i. Mad Ashli menurut Bahasa adalah mad yang masih
dijaga keasliannya (original), karena panjangnya tetap satu alif
setara dengan segelas susu.
Dan menurut
istilah adalah :
المَدُّ
الطَّبِيْعِي اَّلذِي لَاتَقُوْمُ ذَاتُ حَرْفِ اْلمَدِّ اِلَّا بِهِ
Maksudnya dari pengertian tersebut adalah bahwa panjang bacaan mad
tidak melebihi panjang semula, yakni satu alif atau setara dengan dua ketukan,
karena tidak dimasuki hamzah atau sukun. Sehingga dengan kondisi
demikian maka mad Ashli.
Mad Ashli juga biasa
disebut mad thobi’i yang artinya sesuai dengan watak aslinya yang
selamat dari tambahan hamzah dan sukun, sehingga tidak menambah
panjang bacaan semula.
Setiap kali ada alif yang jatuh setelah huruf berharokat fathah,
ya yang jatuh setelah huruf berharokat kashroh, wawu jatuh
setelah huruf berharakat dhommah, maka wajib dibaca mad thobi’i yang
artinya dibaca dengan panjang bacaannya satu alif atau setara dengan dua
ketukan atau dua harokat.
Mad Far’i harus dibaca lebih dari satu alif. Ketentuan ini berlaku
karena setelah huruf mad didepanya terdapat hamzah atau sukun, cara membacanya
melebihi semestinya. Dalam pengertian itu pula disebutkan bahwa panjang
bacaannya yang menyebabkan perselisihan: berapakah panjang yang sebenarnya dan
harus bertemu apa, hamzah atau sukun.
Oleh karena itu pembagian mad far’I
dibagi menjadi 13 bagian:
1.
Mad
wajib muttashil
هُوَاَنْ يَكُوْنَ المَدُّ وَاْلهَمْزَةُ فِى كَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ
“Antara mad dan hamzah terdiri atas satu kalimat”
Mad wajib
artinya wajib dibaca Panjang sedangkan muttashil artinya sambung. Karena ada
mad dalam satu kalimat hamzah, lama bacanya 2 ½ alif (5 harokat).
Contoh:
جَآءَ, سُوْۤءَ,
اَلسَّمَآءُ, جِيْءَ, اُولۤئِــــكَ
(setelah huruf mad terdapat hamzah)
2.
Mad
jaiz munfasil
هُوَ مَاكَانَ
حَرْفُ الْمَـدِّ فِى كَلِمَةٍ وَالْهَمْزَةُ فِى كَلِمَةٍ اُخْرَى
“Disebut Mad Jaiz Munfashil karena huruf mad berada disatu kalimat
sedang hamzah berada di kalimat lain”.
Mad jaiz artinya boleh dibaca Panjang dan boleh tidak sedangkan
munfashil artinya terpisah. Yang dimaksud adalah boleh dibaca Panjang karena
ada huruf mad dan hamzah dalam dua kalimat. Adapun Panjang bacanya 1 alif, 2
alif, atau 2 ½ alif.
Contoh:
بَنِیْۤ
اِسْرَاۤئِيْلَ , يَآأَيُّهَاالنَّاسُ, قُوْآأَنْفُسَكُمْ, بَمَآ اُنْزِلَ
)Huruf mad bertemu hamzah dalam dua kalimat(
3.
Mad
aridh lis-sukun
ِّهُوَ
اْلوَقْفُ عَلٰیاٰخِرِ اْلكَلِمَةِ وَكَانَ قَبْلَ اْلحَرْفِ اْلمَوْقُوْفِ
عَلَيْهِ اَحَدُ حُرُوْفِ اْلمَدِّ الطَّبِيْعِي
“Berhenti di akhir kalimat dan sebelum huruf yang di hentikan itu
terdapat huruf Mad Thabi’i”
Mad aridh lis-sukun artinya bacaan panjang karena terdapat
pertemuan antara huruf mad dengan huruf yang dimatikan (sukun) setelah
diwakafkan. Membacanya boleh dengan 3 alif, 2 alif, atau satu alif, lebih
utamanya dibaca sempurna 3 alif.
Contoh:
الْعِقَا بْ, خَالِدُوْنَ, خَبِيْرٌ, الظَّالِمُوْنَ , الضَّالُّيْنَ
, عَدُوٌّمُبِيْنُ , يَشْكُرُوْنَ
(Huruf mad bertemu huruf
yang mati karena waqaf)
4.
Mad
badal
هُوَ اَنْ يَجْتَمَعَ
المَدُّ وَاْلهَمْزَةُ فِى كَلِمَةٍ لكِنْ تَتَقَدَّمَ اْلهَمْزَةُ عَلَى اْلَمدِّ
“Huruf mad dan hamzah berkumpul dalam satu kalimat akan tetapi yang
hamzah tersebut lebih dulu daripada mad”.
Mad badal yaitu bertemunya hamzah dengan mad yang berasal dari
hamzah sukun dalam satu kata. Adapun Panjang bacanya 1 alif. Di namakan mad
badal karena bertemu 2 hamzah dalam satu kata, hamzah yang pertama berharokat,
dan hamzah yang kedua sukun, kemudian hamzah kedua di ganti huruf mad yang
sesuai dengan harokat sebelumnya. Contoh:
Asalnya; أَاْمَنُوْا menjadi اٰمَنَوُا
إِإْتَاءُ menjadi إِيْتَاۤءُ
أَاْخُذُ menjadi اٰخُذُ
(Huruf sebagai
pengganti hamzah)
5.
Mad
iwadh
هُوَ الوَقْفُ
عَلَى التَّنْوِيْنِ المَنْصُوْبِ فِى اٰخِرِ الكَلِمَةِ
“Mad yang
terjadi karena wakaf (berhenti) pada lafad yang ditanwin, dibaca nashab di
akhir kalimat”
Mad iwadh
yaitu, berhenti pada tanwin yang terletak di akhir kata, panjangnya satu alif.
Contoh:
تَوْبَتَةً, حَيَاةً طَيِّبَةً, كَثِيْرَةً, غَفُوْرًارَحِيْمًا
) Setelah mad ada tanwin diwakafkan)
6.
Mad
lazim mutsaqqal kilmi
هُوَ اَنْ
يَكُوْنَ بَعْدَ حَرْفِ اْلمَدِّ حَرْفٌ مُشَدَّدٌ فِى كَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ
“Mad yang terjadi karena setelah huruf mad terdapat huruf yang
ditasydid dalam satu kalimat”
Mad lazim mutsaqqal kilmi yaitu, mad thabi’I bertemu huruf yang
bertasydid dalam satu kata. Adapun Panjang bacanya 3 alif.
Contoh:
اَتُحَاۤجُّوْۤنِّىْ, اَلضَّٓالِّيْنَ,
اَلطَّٓامَّةُ
) Huruf mad bertemu huruf yang ditasydid(
7.
Mad
Lazim Mukhaffaf Kilmi
هُوَاَنْ
يَكُوْنَ بَعْدَ حَرْفِ اْلمَدِّ حَرْفٌ سَاكِنٌ
“Mad yang
terjadi karena setelah huruf mad ada huruf yang mati (disukun)”
Mad lazim
mukhaffaf kilmi yaitu, mad thabi’I bertemu denganhuruf sukun. Adapun Panjang
bacanya 3 alif.
Contoh:
مَحْيَاۤيْ, آَلْآنَ
) Setelah mad ada huruf yang disukun(
8.
Mad
Lazim Mutsaqqal Harfi
هُوَ اَنْ يُوْجَدَ حَرْفٌ فِى
فَوَاتِحِ السُّوَرِ هِجَاؤُهُ ثَلَاثَةُ أَحْرُفٍ اَوْ سَطُهَا حَرْفُ مَدِّ
وَالثَّالِثُ سَاكِنٌ
“Mad yang ditemukan pada huruf permulaan surah dimana huruf itu
mempunyai 3 bagian huruf, huruf kedua merupakan huruf mad, sedangkan huruf yang
terakhir merupakan huruf yang disukun”.
Mad lazim mutsaqqal harfi yaitu, huruf yang dijumpai pada beberapa
awal surat dari A-Qur’an dalam tulisan hanya satu huruf tetapi apabila
diuraikan terdiri dari 3 huruf, yang tengah huruf mad dan yang ketiga huruf
mati. Jika huruf sesudah mad (huruf ketiga) di idgham kan pada huruf
sesudahnya, maka dibaca dengan diberatkan, dan disebut mad lazim mutsaqqal
harfi musyabba’. Dari Huruf-huruf yang mengawali sebagian surah dalam Al-Qur’an
di atas, maka dapat dipastikan bahwa huruf-huruf Mad Lazim Mutsaqqal Harfi
dalam al-Qur’an sebanyak 8 huruf yang terkumpul dalam kalimat : نَقَصَ عَسَلُكُمْ
Contoh:
نٓ, صٓ, حٰــمٓ عٓسٓقٓ
) Mad bertemu huruf sebangsa 3 dalam satu kalimat(
Adapun
panjangnya 3 alif, kecuali huruf pada
awal surat Maryam كٓهٰيٰعٓصٓ)) boleh
dibaca 2 alif, namun yang lebih masyhur dibaca 3 alif.
9.
Mad
lazim mukhaffaf harfi
هُوَ مَاكَانَ
اْلحَرْفُ فِيْهِ عَلَى حَرْفَيْنِ
“Mad bertemu dengan huruf yang bersifat dua bagian”
Mad lazim mukhaffaf harfi yaitu,huruf-huruf yang berada di awal
dari surat Al-Qur’an, dalam tulisan hanya satu huruf tetapi apabila di uraikan
terdiri dari dua huruf. Jumlah huruf nya ada 5, yang tergolong dalam lafadz " حَيُّ طَهُرَpanjnag bacaan 1 alif.
Contoh:
طٰهٰ, حٰـمٓ
) Mad bertemu
huruf sebangsa 2 dalam satu kalimat(
10.
Mad
layyin
Mad layyin yaitu, wawu sukun dan ya sukun yang huruf sebelumnya
berharokat. Adapun panjangnya, jika dibaca waqof (berhenti) 1 alif, atau 2 alif
atau 3 alif dan jika dibaca washal (lanjut) tidak dibaca panjang.
Contoh:
بَيْتٌ. رَيْبٌ, غَيْبٌ
(Huruf layyin jatuh setelah fathah)
11.
Mad
Shilah
هُوَحَرْفُ
مَدٍّ زَائِدٍ مُقَدَّرٌ بَعْدَ اْلهَاءِ الضَّمِيْرِ وَقُدِّرَ بِحَرَكَتَيْنِ
حَالَ ضَمِّهِ وَكَسْرِهِ
“Mad shilah adalah huruf mad tambahan yang dikira-kirakan setelah
ha’ dhamir dan dikira-kirakan dengan harakat dhammah dan kasrah”.
Mad Shilah artinya bacaan mad yang tersambung. Atau
dengan kata lain Mad Shilah adalah huruf mad tambahan yang diperkirakan setelah
huruf ha’ dhamir, yang dikira-kirakan dengan harakat dhammah atau kasrah.
Mad Shilah Qashir adalah apabila ada dhamir jatuh setelah huruf
hidup dan tidak bersambung dengan kalimat sesudahnya yang diberi al-Ta’rif ( اَلْــ
تَعْرِيْف )
Cara membaca
Mad Shilah Qoshir adalah 1 alif dan ada yang membacanya 2 alif. Contoh:
إِنَّهٗ كَانَ, اَخْلَدَهٗ كَلَّ, رَسُوْلِهٖ
(Dhamir jatuh setelah huruf hidup dan tidak
sambung hamzah)
Sedangkan Mad Shilah Thawil adalah mad shilah yang bertemu dengan
hamzah Qotho’ (hamzah yang bisa dijadikan permulaan atau ditengah-tengah
kalimat), sehingga mad ini hampir sama dengan Mad Jaiz Munfashil.
Mayoritas ulama’ Qurra’ membacanya 2 ½ alif (5 ketukan) namun
diantara mereka ada yang membaca qashar dengan alif.
Contoh:
مَاعَنْهُ
اٰلِهَةٌ, بِهٖٓ اَزْوَاجًا, كَانَ لَهٗٓ إِخْوَةٌ
(Setelah dhamir
ada hamzah qotho’)
12.
Mad
Farqu
Mad farqu yaitu, mad yang digunakan untuk membedakan antara
istifham (kata tanya) dan kalam khabar (berita), sebab jika tidak dibaca
Panjang maka dianggap sebagai kalam khabar bukan istifham sehingga hamzah pada
kata tersebut adalah istifham. Adapun panjang bacanya adalah 3 alif.
Contoh:
آالذّٓكَرَيْنِ, آاللهُ
(Mad sebagai
istifham)
13.
Mad
Tamkin
Mad tamkin
yaitu, dua huruf ya’ yang satu sukun dan huruf ya’ sebelumnya berharokat kasrah
serta bertasydid. Adapun Panjang bacanya 1 alif.
Contoh:
حُيِّيْتُمْ, اَلنَّبِيِّيْنَ
(Sebelum ya’ ada ya’ kasrah dan tasydid)
Qashr adalah bacaan yang semula panjang kemudian dipendekkan. Dalam
hal ini, kita bisa merujuk kepada pendapat Imam Hafaz tentang bacaan-bacaan
yang di qasharkan dengan uraian berikut ini:
1. Shafrun Mustadir (صَفْرٌمُسْتَدِيْرٌ)
yaitu tanda lingkaran seperti bentuk bola yang tertulis pada lafal yang
diqasharkan.
2. Shafrun Mustathil (صَفْرٌمُسْتَطِيْلٌ)
yaitu tanda lingkaran yang memanjang seperti bentuk telur burung merpati yang
ditulis diatas lafal yang diqasharkan.
Bacaan dalam
al-Qur’an yang bertanda Shafrun Mustadir harus dibaca pendek, baik diwashalkan
(terus) maupun diwakafkan (berhenti).
Contoh:
Tertulis لِشَا۫ئٍ
dibaca لِشَئٍ
Tertulis وَمَلَاْئِهٖ
dibaca وَمَلَئِهٖ
Tertulis سَلَاسِلَاْ
dibaca سَلَاسِلَ
Sedangkan
bacaan qashar yang bertanda Shafrun Mustathil mempunyai dua cara membaca yaitu:
1. Tetap dibaca panjang ketika diwakafkan (berhenti).
2. Tetap dibaca pendek ketika di washalkan (terus).
Kendatipun demikian, tidak semua bagian qashar mempunyai tanda Shafrun Mustadir
maupun Shafrun Mustathil. Masih banyak lagi bacaan qashar dalam al-Qur’an
sebagaimana bacaan yang lazim digunakan Imam Hafaz (Imam Madzab Qurra’
Indonesia).
BAB III
PENUTUP
Mad menurut istilah adalah memanjangkan (al-matthu) atau menurut
bahasa zayidah adalah menambahkan suatu huruf ketika membaca huruf mad. Dan
begitu pula menurut Muhammad Mahmud dalam kitab Hidayatul Mustafid bahwa mad
dalam arti Bahasa adalah almathu artinya memanjangkan, atau Azziyaadah yang
artinya tambah. Qashr menurut istilah memendekan bunyi huruf mad yang
sebenarnya dibaca panjang atau membuang huruf mad dari suatu kata. Wau mati
yang jatuh setelah huruf yang bertanda baca Dhammah. Contoh :. Ya mati yang
jatuh setelah huruf yang bertanda baca kasrah. Contoh :. Alif mati yang jatuh
setelah huruf yang bertanda baca fathah. Contoh :. Maka dari itu jika menemukan
huruf dan tanda baca seperti itu, wajib dibaca panjang. 1. Panjang yang pendek,
dalam Bahasa arab disebut Alqosoru yang artinya pendek. Mad Ashli menurut
Bahasa adalah mad yang masih dijaga keasliannya (original), karena panjangnya
tetap satu alif setara dengan segelas susu. Qashr adalah bacaan yang semula
panjang kemudian dipendekkan. 1. Shafrun Mustadir (صَفْرٌمُسْتَدِيْرٌ) yaitu tanda lingkaran seperti bentuk bola yang tertulis pada
lafal yang diqasharkan. Kendatipun demikian, tidak semua bagian qashar
mempunyai tanda Shafrun Mustadir maupun Shafrun Mustathil. Masih banyak lagi
bacaan qashar dalam al-Qur’an sebagaimana bacaan yang lazim digunakan Imam
Hafaz (Imam Madzab Qurra’ Indonesia).
DAFTAR PUSTAKA
·
Meeftha.
2017. Hukum bacaan mad dan qashr.
https://tajwid.web.id/hukum-bacaan-mad-dan-qashar/